Nokturnal Bukan Natural

Di antara jutaan bunga tidur yang merekah menjejali paras tua praja, menyembul mimpi-mimpi yang masih terhunjam dalam bentala fana. Merekalah nokturnal, peri natural di kota ini. Harkat malam tak mengelamkan lelangit mereka. Bukan karsa mereka membalela kuasa Tuhan. Sekali-kali bukan. Mereka hanyalah anak bumi yang teperdaya kenaiman malam. Tuhan betul Maha Besar, bahkan gulita tak luput oleh kecerlangan. 

Ketika amaran Tuhan tak diindahkan, ketika Nokturnal menjadi natural. Lelah itu sendiri mulai menyingsing melangkahi mentari. Lalu rindu bertunas di pucuk sukma. Rindu akan dusun yang masih mengenal nilai lama. Petani dan nelayan yang sama, lain dengan makhluk kota yang tak mengenal masa. Kemudian khayal menghantarkanku pada desa nan tenang, malam nan nyaman, sunyi nan senyap, nyenyak nan lelap. Tanah yang terpelihara dari ingin muluk—angan busuk—angin lapuk. Beruntunglah kalian! Merugilah kami! Yang masih saja terpaku dengan mimpi semu. 

Mimpi bukanlah mimpi jika tak terjaga. Semoga masa itu segera tiba. Sementara itu kami hanyalah insan yang suang sumbang, dengan Tuhan yang melencangkan. Dari semua itu, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?
-Anu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s